tentang saya

tentang saya

Senin, 20 Desember 2010

laporan BD PD

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Bulk density atau berat isi, menunjukkan perbandingan berat tanah kering dengan volume termasuk dari pori-pori tanah. Berat isi memiliki arti penting diantara sifat-sifat fisika tanah karena mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan tanaman yang tumbuh pada tanaman tersebut. Dimana porositas, aerasi dan kandungan air sangat dipengaruhi oleh nilai berat isi dari tanah.
Bulk density mencakup pada volume padatan tanah dan pori-pori diantara zarah-zarah tanah, atau dengan kata lain mencakup seluruh volume tanah. Jadi berbeda dengan partikel density yang hanya meliputi padatan tanah saja, tidak dengan pori-porinya.
Kondisi fisik tanah menentukan penetrasi akar didalam tanah, retensi, air, drainase, aerasi dan nutrisi tanaman. Selain itu juga mempengaruhi sifat-sifat kimia dan biologi.
Kerapatan massa ditentukan oleh banyaknya pori tanah maupun oleh butir-butir padatan tanah. Tanah-tanah yang renggang mempunyai bobot kecil persatuan volume.
Tanah bertekstur halus mempunyai jumlah pori-pori tetapi berat isinya lebih rendah daripada tanah bertekstur kasar. Jadi semakin banyak ruang pori tanah akan semakin kurang pada tanah tersebut, yang berarti pula drainasenya semakin baik. Tanah yang lebih padat mempunyai nilai kerapatan yang lebih besar dari tanah yang telah diolah. Ini berarti makin padat suatu tanah maka semakin sulit menentukan air atau ditembus  akar tanaman. Sedangkan tanaman itu sendiri akan membutuhkan ruang dalam tanah yang akan digunakan sebagai tempat untuk menyerap air dan udara.
Berdasarkan uraian diatas jelaslah bahwa penentuan Bulk Density mempunyai manfaat untuk mengetahui kandungan bahan organic tanah.
1.2  Tujuan dan Kegunaan
Tujuan praktikum Bulk density adalah untuk menentukan nilai bulk density lapisan I dan II pada tanah alfisol serta factor-faktor yang mempengaruhinya.
Kegunaan praktikum Bulk Density adalah untuk mengetahui sejauh mana tanaman mampu menumbuhkan akarnya (daya tembus akar) dan pori-pori tanah yang dapat membantu aerasi dalam tanah.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA



Berat isi (Bulk Density) adalah berat (massa) satu satuan volume tanah kering, umumnya dinyatakan dalam g/cm3. Volume tanah termasuk volume butiran padat dan ruang pori. Berat jenis tanah ditentukan oleh porositas dan padatan tanah. Tanah yang renggang pori-pori mempunyai bobot kecil per satuan volume dan tanah yang padat berbobot tinggi dan berat jenis yang lebih rendah daripada tanah berpasir. Bulk Density berguna untuk menghitung berat tanah di lapangan (Pairunan dkk, 1997).
Berat jenis tanah atau Bulk Density adalah berat satuan volume tanah kering yang umumnya dinyatakan dalam gram/cm3. Bulk density menunjukkan perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah termasuk volume pori tanah. Bulk density merupakan petunjuk kepadatan tanah, makin padat suatu tanah maka makin tinggi pula bulk density, yang berarti makin sulit meneruskan air atau ditembus akar tanaman (Hardjowigeno, 1995).
Tanah lebih padat mempunyai berat jenis dan bulk density tinggi dari tanah yang sama kurang padat. Bulk density di lapisan-lapisan tanah mineral umumnya berkisar 1-1,6 g/cm3 tanah organic mempunyai bulk density yang rendah misalnya mencapai 0,1 g/cm3 pada tanah organic apapun juga (Foth, 1994).
Factor yang mempengaruhi kerapatan massa selain dari banyaknya pori tanah juga dipengaruhi oleh butiran tanah padat. Kerapatan massa lempung, geluh lempung dan geluh debu tanah permukaan umumnya dapat berkisar 1,0 sampai 1,60 gram/cm3 tergantung pada keadaan terdapat suatu kecenderungan jelas. Kerapatan massa naik makin klorofil (Buckman dan Brady, 1982).
Timnulnya proses pembentukan stuktur dilapisan-lapisan bagian atas dari bahan induk itu sendiri, jadi tanah-tanah organic memiliki kerapatan isi yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan mineral. Tergantung dari sifat-sifat bahan organic yang menyusun tanah organic dan kandungan air pada saat pengambilan contoh (Hakim, 1986).
Volume tanah disini meliputi padatan tanah dan pori-pori diantara zarah-zarah tanah. Ruang pori merupakan komponen dalam tanah yang diisi air dan udara. Penyediaan air dan O2 untuk pertumbuhan tanaman dan jumlah air yang bergerak melalui tanah sangat berkaitan erat dengan jumlah dan ukuran pori-pori tanah. Maka berat tanah berhubungan erat dengan jumlah ruang pori, sehingga terganggunya struktur tanah dapat mempengaruhi jumlah pori-pori tanah (Foth, 1994).
Berat jenis butiran diukur dengan pikrometer. Pikrometer berisi air ditimbang, kemudian dikosongkan dari air dan diisi dengan sejumlah air yang diganti tempatnya oleh tanah dapat dihitung (Pairunan dkk, 1997).






BAB III
BAHAN DAN METODE


3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Bulk Density dilaksanakan di Laboratorium Fisika Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pada hari selasa, 17 April 2007, pukul 14.00-sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum bulk density adalah timbangan, oven, tabung silender, mistar, dan ring sampel.
Bahan yang digunakan adalah sampel tanah, air (aquadest), dan tissue roll.
3.3 Prosedur Kerja
  • Memasukkan sampel tanah utuh dari pengamatan profil ke dalam oven selama 2 hari sebelum praktikum dimulai.
  • Kemudian mengeluarkan sampel tanah dari oven lalu memasukkan ke dalam desikator untuk didinginkan kemudian menimbang tanah dengan tabungnya. Selanjutnya mengeluarkannya dari ring sample lalu ditimbang.
  • Menghitung Bulk Density dengan rumus :
BD = Berat tanah kering oven gr/cm3
                        Volume tanah


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan maka diperoleh hasil perhitungan bulk density sebagai berikut :
Lapisan
Bulk Density (gram/cm3)
I
1,31 gram/cm3
II
0,97 gram/cm3
Sumber : Data primer 2007.
4.2 Pembahasan
Dari hasil perhitungan bahwa lapisan I memiliki bulk density yang tinggi daripada lapisan II. Dimana bahwa bulk density dipengaruhi oleh kepadatan tanah dan porositas tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat teori yang dimana tanah yang liat memiliki kepadatan yang lebih besar selain itu tanah ini memiliki bahan organic yang sedikit sehingga kerapatan tanah semakin tinggi selain itu pengaruh pori-pori tanah sedikit juga mempengaruhi kepadatan tanah (Pairunan dkk, 1997).
Selain dari pengaruh bahan organic dan pori-pori tanah yang sedikit, bulk density juga dipengaruhi oleh lahan, dimana tanah yang diolah pori-porinya akan mengalami kerusakan sehingga pori-pori yang semula terisi oleh udara dan air akan terbongkar dan mengakibatkan pori-pori yang rusak tadi akan terisi oleh tanah sehingga tanah tersebut akan semakin padat. Pada lapisan bawah biasanya akan memiliki kepadatan tanah yang lebih tinggi, hal ini disebabkan karena pada lapisan I tanah mengalami pencucian tersebut tanah (Buckman dan Brady, 1982).
Bulk density yang terlalu rendah atau telalu tinggi maka kurang baik untuk dinyatakan areal pertanian, dalam hal ini jika bulk density suatu tanah terlalu tinggi maka tanah tersebut tidak dapat menahan air dengan baik dan membuat tanah cepat kekeringan. Sedangkan jika bulk density rendah maka aerasinya kuang bagus. Jadi tanah yang baik untuk lahan pertanian adalah tanah yang memiliki bulk density yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah (Hakim dkk, 1986).











BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
  • Lapisan I memiliki bulk density sebesar 1,13 gram/cm3
  • Lapisan II memiliki bulk density sebesar 0,97 gram/cm3
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi bulk density adalah bahan organic, porositas, pengolahan tanah dan kandungan bahan mineral tanah.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil praktikum bulk density maka tanah sebaiknya tidak dijadikan sebagai areal pertanian sebab selain kandungan bahan organic yang rendah juga memiliki kerapatan tanah yang tinggi sehingga kurang produktif untuk dijadikan areal pertanian.






DAFTAR PUSTAKA



Buckman H. O dan Brady N. C, 1982. Ilmu Tanah. Brahara Karya Aksara. Jakarta.

Foth, H. D, 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadja Mada University Press. Jakarta.

Hakim N, M. Y Nyakpa, A. M Lubis, S. G Nugroho, M. A Diha, G. B Hong, H. H Bailey, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Hardjowigeno, S. 1995. Ilmu Tanah. PT. Medityama Sarana Perkasa. Jakarta.

Pairunan, A. K. Y. Nanere, J. L. Arifin. S. S. R, Tangkai Sari, R. Lalopus, J. R. Ibrahim, B. dan Asamadih. 1997. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur.














BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Sifat fisik tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan produktivitas tanaman. Sifat fisik tersebut meliputi : struktur, kerapatan tanah, dan tekstur tanah. Diantara sifat fisik tersebut yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman adalah kerapatan partikel tanah. Kondisi fisik ini sangat mempengaruhi retensi air, aerasi dan penetrasi akar didalam tanah.
Tanah memiliki kemampuan sangat bergantung dari komponen-komponen penyusunnya. Dengan demikian usaha untuk mempelajari tanah dimulai dengan mempelajari komponen penyusun tersebut. Tanah merupakan campuran dari berbagai bahan organic maupun bahan mineral.
Kandungan mineral tanah mempelajari berat dari suatu jenis tanah. Berat tabah didefinisikan sebagai berat suatu volume kepadatan tanah. Jadi tidak termasuk volume ruang yang terdapat diantara zarah-zarah tanah.
Tanah mempunyai potensi dan manfaat bagi kehidupan, maka pengetahuan akan sifat dan komponen penyusunnya serta interaksinya perlu diketahui. Salah satu acuan untuk dapat mengetahui komponen penyusunnya adalah menetapkan nilai PD-nya. PD tanah yaitu 2,6-2,7 g/cm3, untuk kepentingan praktis. Sebagai perbandingan berat jenis tanah-tanah organic yang jauh lebih kecil yaitu sebesar 0,5-0,8 g/cm3.
Besarnya ukuran partikel-partikel tanah tidak berpengaruh terhadap patikel density dan ini merupakan salah satu sebab mengapa tanah pada lapisan atas mempunyai partikel density yang lebih rendah dari lapisan bawahnya. Dan jelaslah bahwa dengan pengaruh kandungan bahan organic mempunyai pengaruh besarnya nilai partikel density.
Berdasarkan hal-hal diatas maka percobaan partikel density perlu untuk dilakukan.
1.2  Tujuan dan Kegunaan
Tujuan praktikum partikel density adalah untuk menentukan dan membandingkan kerapatan butir-butir sample tanah alfisol pada lapisan I dan II yang diambil dilapangan dan factor yang mempengaruhinya.
Kegunaan praktikum partikel density adalah untuk mengetahui pentingnya penentuan partikel density didalam penggunaan lahan pertanian dan sebagai bahan perbandingan untuk percobaan selanjutnya.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA



Berat jenis butiran tanah atau partikel density adalah berat suatu volume fase padat tanah, biasanya dinyatakan dalam gram/cm3. Sedangkan berat isi tanah atau bulk density adalah berat massa satu satuan volume tanah kering yang dinyatakan dalam gram/cm3. Kisaran partikel density adalah 2,6-2,7 gr/cm3 sedangkan bulk density berkisar antara 1,0-1,55 gr/cm3 (Pairunan dkk, 1997).
Partikel density adalah salah satu cara untuk mengutarakan berat tanah. Partikel density sebagai berat tanah kering per satuan volume padat tanah. Dengan satuannya adalah gr/cm3. Partikel density meliputi volume tanah saja tidak termasuk volume pori-pori tanah (Foth, 1994).
Potensi dan manfaat tanah bagi kehidupan sangat besar sekali. Oleh karena itu perlu pengetahuan akan sifat dan komponen penyusunnya serta interaksinya perlu diketahui. Salah satu cara untuk mengetahui komponen penyusunnya suatu tanah yaitu dengan menetapkan nilai suatu PD. Besar ukuran dan cara teraturnya partikel-partikel tanah tidak terpengaruh pada partikel density, akan tetapi kandungan bahan organic memberi pengaruh besar partikel density (Hakim dkk, 1986).
Bahan organic dalam tanah mempengaruhi kerapatan jenis tanah. Oleh karena lapisan tanah mempunyai kerapatan jenis yang lebih rendah dari lapisan dibawahnya. Lapisan olah banyak mengandung bahan organic dan mempunyai kisaran jenis zarah lebih rendah dari 2,4 g/cm3. Salah satu cara untuk mengutarakan tanah adalah yang disebut partikel density. Ini didefinisikan sebagai berat dari suatu volume tanah yaitu kepadatannya. Volume yang dimaksud adalah volume ruang-ruang yang terdapat diantara pori-pori tanah (Hardjowigeno, 1995).
Partikel density atau berat jenis butiran tanah adalah berat dari suatu satuan volume fase padat atau partikel-partikel tanah yang tidak termasuk pori-pori tanah. Besar berat butiran tanah biasanya dinyatakan dalam gram/cm3 dan berat butiran dapat diukur dengan picnometer. Dengan picnometer maka berat butiran akan lebih tepat (Buckman dan Brady, 1982).
Top soil yang berpasir biasanya mempunyai kerapatan butiran yang lebih besar dibandingkan dengan tanah-tanah yang berliat. Ini berarti bahwa dalam kondisi kering, tanah berpasir memiliki volume yang diisi ruang pori lebih rendah (Hakim dkk, 1986).










BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Partikel Density dilaksanakan di Laboratorium Fisika Tanah. Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Hasaniddin, Makassar. Pada hari selasa, 17 April 2007, pukul 14.00-sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum partikel density adalah tabung silinder, pengaduk, timbangan, oven, dan gelas ukur.
Bahan yang digunakan adalah sampel tanah dan air suling.
3.3 Prosedur Kerja
·         Memasukkan tanah sebanyak 40 kg ke dalam gelas silender 100 ml, yang telah diberi air sebanyak 50 ml dan aduk dengan baik untuk melepaskan udaranya.
·         Membilas gelas pengaduk pada dinding silender dengan sejumlah air (10 ml).
·         Membiarkan campuran selama 5 menit untuk dapat melepaskan udaranya dan catat volume air dalam gelas silender.
·         Menghitung Partikel density dengan rumus:
PD =  Berat tanah kering oven gr/cm3
Volume partikel padat
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Berdasarkan hasil pengamatan dari perhitungan nilai partikel density maka didapatkan hasil sebagai berikut :
Lapisan
Partikel Density (gr/cm3)
I
3,63 gr/cm3
II
2,67 gr/cm3
Sumber : Data Primer, 2007.
4.2 Pembahasan
Partikel density merupakan gambaran tentang berat suatu tanah yang tidak berkait dengan volume pori-pori pada tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat  Foth (1994) bahwa partikel density adalah salah satu cara untuk mengutarakan berat tanah. Partikel density sebagai berat tanah kering per satuan volume padat tanah. Satuannya adalah gram/cm3. Partikel density meliputi volume tanah saja tidak termasuk volume pori-pori tanah.
Hasil perhitungan nilai partikel density memperlihatkan bahwa tanah pada lapisan II PD terendah yaitu 2,67 gr/cm3. Sedangkan yang tertinggi adalah lapisan I yaitu 3,63 gr/cm3. Ini terlihat pada lapisan atas kandungan bahan organiknya banyak dibandingkan dengan tanah pada lapisan bawah, dimana semakin banyak kandungan organiknya semakin besar PD-nya. Menurut Buckman dan Brady (1982) bahwa bahan organic dapat memperbesar nilai partikel density tanah karena bahan organic beratnya lebih kecil dari berat benda padat tanah mineral lainnya pada volume yang sama.
Tanah pada lapisan I memiliki kandungan bahan organic yang tinggi daripada tanah pada lapisan II. Dimana pada kandungan bahan organic tinggi maka porositas pun tinggi artinya partikel densitynya juga tinggi. Menurut Hardjowigeno (1995) bahwa porositas tinggi kalau bahan organic tinggi. Tanah yang granular atau remah mempunyai porositas tinggi daripada tanah-tanah yang memiliki struktur massive. Tanah dengan tekstur pasir memiliki banyak pori makro sehingga sulit menahan air.

















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum partikel density maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
  • Tanah pada lapisan I memiliki partikel density sebesar 3,63 gr/cm3
  • Tanah pada lapisan II memilki partikel density sebesar 2,67 gr/cm3
  • Tinggi rendahnya partikel density dipengaruhi oleh kandungan bahan organic tanah.
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi partikel density suatu tanah adalah bahan organic dan jenis bahan mineral yang terkandung pada tanah tersebut.
5.2 Saran
Sebaiknya dalam mengelolah suatu bidang tanah, maka tanah yang digunakan adalah tanah yang cukup mengandung bahan organic dan unsur-unsur lain agar tanaman bias tumbuh dengan subur.





DAFTAR PUSTAKA



Buckman H. O dan Brady N. C, 1982. Ilmu Tanah. Brahara Karya Aksara. Jakarta.

Foth, H. D, 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadja Mada University Press. Jakarta.

Hakim N, M. Y Nyakpa, A. M Lubis, S. G Nugroho, M. A Diha, G. B Hong, H. H Bailey, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Hardjowigeno, S. 1995. Ilmu Tanah. PT. Medityama Sarana Perkasa. Jakarta.

Pairunan, A. K. Y. Nanere, J. L. Arifin. S. S. R, Tangkai Sari, R. Lalopus, J. R. Ibrahim, B. dan Asamadih. 1997. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur
























BAB I
PENDAHULUAN


1.3  Latar Belakang

Sifat-sifat fisik tanah banyak bersangkutan dengan kesesuaian tanah pada berbagai penggunaan, kekuatan dan daya dukung kemampuan tanah menyimpan air, drainase, penetrasi akar tanaman, tata udara dan pengikatan unsure hara, yang semuanya erat kaitannya dengan sifat fisik tanah.
Ruang pori tanah merupakan ruang yang dapat dikuasai oleh air dan udara tanah. Struktur tanah sangat menentukan besar ruang tersebut. Hubungan antara massa tanah dan ruang yang dapat berbentuk volume tanah, ditentukan olehnya. Ruang yang ditempati oleh tanah terbagi dua yaitu ruang padat dan ruang pori. Salah satu tidak boleh monopoli ruang tanah itu. Ia harus dibagi secara adil dan seimbang.
Didalam tanah terdapat ruang-ruang yang mengikat bitir-butir tanah. Ruang pori-pori ini penting oleh karena ruang ini diisi oleh air dan udara. Air dan udara (gas) juga bergerak melalui ruang pori-pori ini, jadi penyediaan air dan O2 untuk pertumbuhan tanaman dan sejumlah air yang bergerak melalui tanah berkaitan sangat erat dengan jumlah dan ukuran pori-pori tanah.
Berat dan pori-pori tanah bervariasi dari suatu horizon ke horizon lain, sama halnya dengan sifat-sifat tanah lainnya san kedua variable ini dopengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah.
Adanya variasi berat dan ruang pori-pori tanah pada tiap horizon menyebabkan kemampuan daya ikat tanah terhadap air dan  ruang udara untuk tiap horizon  juga berbeda-beda. Diketahui bahwa pada umumnya tanaman memerlukan air dan oksigen (tanah aerob) untuk pertumbuhannya. Ketersediaan bahan tersebut sangat dipengaruhi oleh berat dan ukuran ruang pori-pori tanah.
Berdasarkan hal-hal tersebut maka percobaan porositas perlu dilakukan.
1.3  Tujuan dan Kegunaan
Tujuan praktikum porositas adalah untuk mengetahui besar kecilnya porositas tanah lapisan I dan II pada tanah alfisol.
Kegunaan praktikum porositas adalah agar mengetahui cara penentuan persentase porositas suatu jenis lahan atau lokasi yang dijadikan pengambilan sample tanah serta factor-faktor yang mempengaruhinya.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA



Porositas tanah adalah persentase volume tanah yang tidak ditempati butiran padat. Susunan butiran tanah menentukan jumlah dan sifat pori. Ukuran pori-pori liat kecil dan dapat menahan air, tetapi permeabilitasnya lambat, sebaliknya pasir mempunyai pori-pori yang besar tetapi daya Manahan air kurang (Pairunan dkk, 1997).
Pada tanah terdapat sejumlah ruang pori, ruang pori ini sangat penting karena diisi oleh air dan udara. Air dan udara bergerak melalui ruang pori yang terdapat didalam tanah. Jadi penyediaan air dan udara untuk pertumbuhan tanaman dan jumlah air yang bergerak melalui tanah berkaitan erat dengan jumlah dan ukuran dari pori-pori tanah (Hakim dkk, 1986).
Pori-pori tanah dapat dibedakan menjadi pori-pori halus. Pori-pori kasar berisi udara atau air gravitasi sedangkan pori-pori halus berisi udara dan air kapiler. Porositas tanah tinggi bila bahan organic juga tinggi. Tanah-tanah yang bertekstur granular atau remah mempunyai porositas tinggi daripada taanh bertekstur massive (Hardjowigeno, 1995).
Ruang pori tanah merupakan bagian yang tidak diduduki oleh udara dan air. Jumlah ruang pori ini sebagian besar oleh susunan butir padat. Kalau letak mereka satu sama lain cenderung erat, seperti dalam pasir atau sub soil yang padat dan porositasnya rendah. Kalau mereka tersusun dalam yang mengumpal seperti yang kerapkali terjadi pada tanah-tanah yang bertekstur sedang yang besar kandungan bahan organiknya ruang pori per satuan volume akan tinggi (Buckman dan Brady, 1982).
Ruang pori dalam tanah dapat dihitung dengan kerapatan ini dan kerapatan zarah, jika keduanya ditetapkan dalam pengukuran yang sama. Ruang pori total dalam tanah berpasir semakin rendah tetapi sebagian besar dari pori-pori itu terdiri dari pori-pori  yang besar dan sangat efisien dalam lalu lintas air dan udara, persentase volume yang ditempati oleh pori-pori yang kecil dalam tanah berpasir adalah rendah, sebaliknya pada tanah top soil yang bertekstur halus memiliki lebih banyak ruang pori total yang sebagian besar terdiri dari pori-pori kecil. Hasilnya adalah tanah dengan kapasitas memegang air yang besar, air dan udara yang bergerak melalui tanah dengan sukar karena hanya sedikit saja terdapat pori-pori besar (Hakim, 1986).
Tekstur tanah yang halus mempunyai kisaran luas dalam ukuran dan bentuk partikel. Partikel-partikel ini tidak dalam pengemasan yang paling rapat dan tanah biasanya mempunyai ped tanah dengan ped structural dan mempunyai ruang pori karena ruang antar partikel tekstur dan ruang antar ped (Foth, 1994).





BAB III
BAHAN DAN METODE


3.1 Tempat dan Waktu
Praktikun porositas dilaksanakan di Laboratorium Fisika Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pada hari selasa, 17 April 2007, pukul 14.00-sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan adalah timbangan, tabug silinder, pengaduk, mistar, ring sampel, dan oven.
Bahan yang digunakan adalah sampel tanah utuh, air (aquadest), dan tissue roll.
3.3 Prosedur Kerja
  • Menghitung nilai Bulk density dan Partikel density tanah.
  • Menghitung Porositas tanah dengan rumus :
PD =




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Lapisan
Porositas (%)
I
69 %
II
64 %
Sumber : Data primer, 2007.
4.2 Pembahasan
Hasil pengamatan dari perhitungan nilai porositas memperlihatkan bahwa yang memiliki nilai porositas tertinggi adalah tanah lapisan I dengan porositas sebesar 69%. Hal ini disebabkan karena pada lapisan tanah tersebut memiliki kandungan bahan organic yang banyak,. Dimana bahan organic ini akan memperkecil kerapatan dan memperbesar porositas tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno (1995), bahwa porositas tanah tinggi apabila bahan organiknya tinggi. Bahan organic memperkecil kerapatan isi tanah karena bahan organic juga lebih ringan daripada mineral dan bahan organic memperbesar porositas tanah.
Nilai porositas terendah terdapat pada lapisan II yaitu 64%. Hal ini disebabkan karena  tanah pada lapisan II sedikit berpasir, dimana persentase volume dapat terisi oleh pori-pori kecil tanah berpasir rendah yang mengakibatkan kapasitas menahan air rendah. Menurut Foth (1994), bahwa ruang pori total pada tanah pasir mungkin rendah tetapi mempunyai proporsi yang besar yang disusun daripada komposisi pori-pori yang besar yang sangat efisien dalam pergerakan udara dan airnya.
Porositas tanah dipengaruhi oleh kandungan bahan organic, struktur, dan tekstur. Porositas tanah tinggi jika bahan organic tinggi. Tanah-tanah dengan struktur granular atau remah, mempunyai porositas yang lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan struktur pejal, tanah yang bertektur halus mempunyai porositas tinggi dan berat isi yang lebih rendah daripada tanah yang bertekstur kasar atau berpasir (Hardjowigeno, 1995).









DAFTAR PUSTAKA

Buckman H. O dan Brady N. C, 1982. Ilmu Tanah. Brahara Karya Aksara. Jakarta.

Foth, H. D, 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadja Mada University Press. Jakarta.

Hakim N, M. Y Nyakpa, A. M Lubis, S. G Nugroho, M. A Diha, G. B Hong, H. H Bailey, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Hardjowigeno, S. 1995. Ilmu Tanah. PT. Medityama Sarana Perkasa. Jakarta.

Pairunan, A. K. Y. Nanere, J. L. Arifin. S. S. R, Tangkai Sari, R. Lalopus, J. R. Ibrahim, B. dan Asamadih. 1997. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur













Lampiran :
Lapisan I
BTKO = 218 kg
Diameter ring = 7 cm
Tinggi ring = 5 cm
V = п r2 t
    = 3,14 X 12,25 X 5
    = 192,325
BD = Berat tanah kering oven gr/cm3
                        Volume tanah
       =    218
          192,325
       = 1,13 gr/cm3

Lapisan II
BTKO = 186 kg
Diameter ring = 7 cm
Tinggi ring = 5 cm
V = п r2 t
    = 3,14 X 12,25 X 5
    = 192,325
BD = Berat tanah kering oven gr/cm3
                        Volume tanah
       =    186
          192,325
       = 0,97 gr/cm3



Lampiran :
Lapisan I
BTKO = 40 gr
Volume air pembilas = 30 cm3
Volume dalam gelas ukur = 50 cm3
Volume air dan tanah = 91 cm3
Volume tanah = (91) – (50+30) = 11 cm3
PD =    40 gr
         11 gr/cm3
      = 3,63 gr/cm3


Lapisan I I
BTKO = 40 gr
Volume air pembilas = 20 cm3
Volume dalam gelas ukur = 50 cm3
Volume air dan tanah = 85 cm3
Volume tanah = (85) – (50+20) = 15 cm3
PD =    40 gr
         15 gr/cm3
      = 2,67 gr/cm3













Lampiran :
Lapisan I
Porositas = [ 1 – BD] X 100%
                           PD

                = [ 1 –1,31] X 100%
                           3,63

                = [ 1 – 0,31 ] X 100%
                = 0,69 X 100%
                = 69%
Lapisan II
Porositas = [ 1 – BD] X 100%
                           PD

                = [ 1 –0,97] X 100%
                           2,67

                = [ 1 –0,36] X 100%
                = 0,64X 100%
                = 64%

      


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar