tentang saya

tentang saya

Selasa, 04 Oktober 2011

struktur tanah






LABORATORIUM FISIKA TANAH
JURUSAN ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2010

1.2. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui bentuk, ukuran , dan tingkat perkembangan struktur tanah, kemantapan struktur dalam air dan kemantapan agregat terhadap tetesan air, serta faktor- faktor yang mempengaruhinya.Sedangkan kegunaan dilaksanakan percobaan ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan dasar tentang cara penentuan struktur  tanah dan keterikatan antara struktur tanah dengan usaha pertanian.










II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Struktur Tanah
Istilah struktur digunakan untuk mempertimbangkan susunan partikel. Struktur berhubungan dengan agregasi partikel utama tanah (pasir, debu, dan tanah liat). Menjadi partikel senyawa, atau kelompok patikel utama, yang dipisahkan dari agregat yang berdekatan dengan permukaan yang lemah. Struktur horison – horison profil tanah yang berbeda-beda merupakan ciri penting tanah seperti halnya warna, tekstur, atau komposisi kimia (Foth, 1994).
Pada dasarnya yang dinamakan struktur tanah adalah penyusunan (arrangement) partikrl-partikel tanah primer seperti pair, debu, dan liat membentuk agregat dengan lainnya dibatasi oleh bidang belah alami yang lemah. Agregat yang terbentuk secara alami (natural aggregate) disebut ped, sedangkan istilah cold digunakan untuk bongkah tanah hasil pengolahan tanah misalnya. Dua istilah lain yang sering meragukan dengan ped adalah fragment dan conrection (konkresi). Fragment berarti ped yang pecah, konkresi terbentuk di dalam tanah akibat presipitasi garam-garam terlarut dan sering terbentuk akibat fluktuasi yang besar dari permukaan air tanah (Hakim, dkk, 1986).
2.2 Pengaruh Struktur Tanah terhadap tanaman
Struktur memodifikasi pengaruh tekstur dalam hal hubungan kelembaban dan udara. Tersedianya hara tanaman, kegiatan jasad renik, dan pertumbuhan akar. Contoh yang baik terdapat pada tanah hitam Alabama dan Texas, yamg kandungan tanah liat plastisnya sangat tinggi yaitu sampai 60%, dan mempunyai nilai yang sangat terbatas untuk produksi struktur granular (butiran) (Foth, 1994).
Menurut (Hakim, dkk, 1986) ada 4 bentuk utama struktur tanah,yaitu :
Ø  Bentuk Lempung
 Dimensi horizontal lebih berkembang dari vertikal, menghasilkan bentuk lempeng. Lempeng tebal disebut platy, sedangkan lempeng tipis disebut laminar.
Ø  Bentuk Prisma     
 Sumbu vertical lebih brkembang dari lainnya, bagian samping agak datar (flat), menghasilkan bangunan bentuk pillar. Jika puncak ped adalah bulat disebut struktur coloumnar, jika datar disebut prisma.
Ø  Bentuk Gumpal
Perkembangan ketiga dimensi lebih kurang sama dengan ped-ped terbentuk sampai kubus dengan muka datar atau bulat. Jika muka datar dan pinggirannya bersudut tajam, maka struknya dinamakan gumpal bersudut.
Ø  Bentuk Spheroidal
Berbentuk bulat atau spheroidal dan semua sumbu lebih kurang sama panjangnya dengan muka tidak beraturan (irregular). Biasanya ukuran strukturnya kecil, agregat-agregat dari grup ini dinamakan granular relatif  kurang porous, dan jika susunan granular sangat porous dinamakan remah (crumb).
Keempat bentuk tersebut di atas akhirnya menghasilkan tujuh tipe struktur tanah yaitu granular, remah (crumb), lempeng (plate), gumpal, gumpal bersudut, prisma, dan columnar. Agregat selalu dalam tingkatan perubahan yang kontinue. Pembasahan, pengeringan, pengolahan tanah dan aktivitas biologis,semuanya berperan dalam pengrusakan dan pembangunan agregat-agregat tanah. Struktur lapisan dengan dipengaruhi oleh pengolahan praktis dan dimana aerasi dan drainase membatasi pertumbuhan tanaman, seperti pertanaman yang mampu menjaga kemantapan aggregasi tanah akan membentuk hasil yang tinggi bagi produksi pertanian (Hakim, dkk, 1986).
Menurut (Anonim,2009) tingkat perkembangan struktur dapat digolongkan dalam empat kelas, yaitu :
1)      Tanpa struktur ; tidak teragregasi, partikel tanah lepas satu sama lain atau massif.
2)      Perkembangan lemah ; banyak ped yang sempurna terlihat, masih muda menjadi campuran ped yang tidak jelas bersama bahan-bahan yang tidak beragregasi.
3)      Perkembangan sedang ; banyak ped yang sempurna terlihat, masih muda menjadi campuran ped yang tidak jelas bersama-sama bahan yang tidak teragregasi.
4)      Pembentukan kuat dan strukturnya mantap ; ped-ped tanah jelas kelihatan dan dijumpai bila tanah tidak terganggu.







I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sturktur tanah menggambarkan cara bersatunya partikel-partikel primer tanah yaitu pasir, debu, dan liat menjadi butir-butir (agregat) tanah. Agregat yang terbentuk secara alami dinamakan ped. Struktur tanah dijelaskan dalam bentuk, ukuran, dan tingkatan perkembangan ped.
            Struktur tanah memiliki banyak tipe, dimana setiap tipe tesebut  dan masing-masing mempunyai sifat yang berbeda-beda antara tipe yang satu dengan tipe yang lainnya. Setiap tanahpun punya tingkatan perkembangan struktur yang berbeda-beda. Ukuran dari setiap struktur dapat dibedakan dalam beberapa kelas yaitu sangat halus, halus, medium, kasar, dan sangat kasar.
            Struktur merupakan salah satu sifat tanah yang sangat penting selain tekstur. Struktur tanah menentukan Bulk Density, Partikel Density, Porositas dari tanah. Tingi rendahnya nilai Bulk Density, Partikel density, dan Porositas suatu bergantung pada keadaan strukturnya.
            Kadar air tanah untuk tanaman pun juga sangat dipengaruhi oleh kelas struktur tanah tersebut. Tanah dengan struktur yang kasar biasanya tidak cocok untuk lahan pertanian, karena kurang baik dalam hal penyerapan air tanah sebagai simpanan dalam tanah untuk digunakan oleh pertumbuhan dan perkembangan tanaman.   Berdasarkan uraian di atas, maka praktikum tentang struktur tanah perlu dilakukan agar sifat – sifat tanah yang lainnya dapat lebih dimengerti.
III. METODOLOGI PERCOBAAN
3.1.  Tempat dan Waktu
Praktikum Struktur Tanah dilaksanakan di LaboratoriumKimia Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.  Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 13 Oktober 2010, pada pukul 13.00 WITA-selesai.

3.2.  Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum Struktur Tanah adalah saringan kawat, cawan Petridis, buret, gelas piala, botol semprot pipet tetes dan stopwatch
Bahan yang digunakan pada praktikum Struktur Tanah adalah 3 butir agregat tanah dari sampel tanah terganggu 1 dan sampel tanah terganggu 2 serta air.

3.3.  Prosedur Kerja
Prosedur kerja Struktur Tanah adalah sebagai berikut :
Praktek 1. Mengenal Bentuk, Ukuran, dan Tingkat Perkembangan Struktur.
1.  Amatilah bentuk, ukuran, dan tingkat perkembangan struktur tanah dengan menggunakan mata biasa, maupun dengan menggunakan kaca pembesar.
Praktek 2. Kemantapan Struktur dalam Air
1.  Taruh air destilata dalam cawan Petridis.  Selanjutnya pilih 3 butir agregat tahah yang representative ( < 2 mm ) dan masukkan dengan hati-hati ke dalam air pada cawan petridis tersebut.  Amati keutuhan tanah setelah beberapa lama.
Praktek 3.  Kemantapan Agregat terhadap Tetesan Air
1.  Letakkan 3 butir tanah berukuran seekitar 1- 2 mm di atas saringan dari kawat yang ditaruh di atas gelas piala.  Basahi agregat-agregat dengan air dengan menggunakan cawan Petridis, biarkan 10 menit agar pembasahan merata.
2.  Tetesi agregat-agregat tersebut dengan air dari buret yang dipasang 20 cm di atas saringan.
3.  Menghitung jumlah tetesan yang diperlukan untuk menghancurkan agregat-agregat tanah tersebut.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar